SUASANA ITU

Ernest Hemingway pernah berkata, kau bisa menulis dalam keadaan apapun. Namun saat terbaik menulis adalah saat kau jatuh cinta. Namun diakhir hidupnya dia bunuh diri, entah mengapa? Aku rasa filsafat yang yang meracuninya terlalu dalam. Itu pendapatku…

Buatku, saat menulis terbaik adalah waktu hujan dengan mesranya menyapa tanah yang lembab dipegunungan. Membasahi hutan yang dipenuhi pohon-pohon pinus yang menjulang mencoba menggapai langit. Membawa dingin menyelimuti bumi.

Aku dan sweeter wolku telah siap dengan segelas coklat panas atau segelas teh berbumbu madu yang baru saja kupanen dibukit belakang. Duduk di depan meja disamping jendela kaca dengan pemandangan hujan yang membasahi hutan, tersamarkan oleh bulir-bulir air yang silih berganti mengetuk kaca jendelaku di sebuah rumah kayu.

Aku pernah bercita menjadi penulis bahkan sampai sekarang. Dan impian tempat menulis masih pula terngiang-ngiang di telinga bagai suara gong raksasa yang dipukul di samping telingaku.

Malam ini di Kota Malang. Aku merasakan keinginan ini lagi. Daerah pegunungan yang dingin, hujan yang akan sering datang, apalagi besok aku akan ke peternakan lebah madu di hutan. Hmm, semoga impian semakin dekat dan bisa menjadi kenyataan. Amin

Note : Hmm…Hemingway benar tentang jatuh cinta saat menulis. Aku jatuh cinta pada suasana seperti itu untuk menulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s