KUPI

Kota dengan Sebutan Serambi Mekkah ini memiliki suatu ciri khas yang sangat kental bagi masyarakatnya. Ya Kota Aceh, kota ini sangat indentik dengan kopi. Kopi merupakan salah satu sumber daya alam utama bagi rakyat Aceh. Kentalnya ciri khas ini ibarat telah mengalir dalam darah daging mereka. Tidak berlebihan saya mengatakan seperti ini, karena seperti itulah adanya. Contohnya saja di Takengon, Aceh Tengah, kita akan menemukan dan melihat disepanjang pekarangan rumah warga tanaman kopi, kopi, dan kopi. Yang ini dalam skala kecil saja, belum lagi dalam skala besarnya. Siapa yang tidak kenal dengan kopi Aceh. Disamping daerah penghasil kopi lainnya di Indonesia, Aceh merupakan salah satu daerah terdepan dalam menghasilkan kopi. Belum lagi dikota Aceh, Banda Aceh akan banyak kita temukan warung-warung kopi menjamur.

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi kota ini bersama Reni, teman seperjalanan. Tidak pernah sebelumnya dalam sehari kami menenggak lima gelas jenis kopi hitam dengan berbagai macam metode racikan, bahkan Reni lebih banyak lagi saya rasa. Saya memang bukan pecinta atau penikmat kopi. Tapi sangat janggal rasanya jika pergi ke suatu daerah dan tidak mencoba ataupun merasakan apa yang menjadi ciri khas tempat tersebut. Seingat saya, tiga hari pertama, tidak pernah sekalipun di Aceh saya tidak minum kopi hitam dan minimal dua gelas.

Duduk dan minum bersama para peracik dan penikmat kopi, saya dan Reni diajarkan cara minum kopi dan bagaimana mengetahui kualitas kopi dari rasanya. Beberapa ilmu dasar yang saya dapat adalah jika akan membuat kopi, jangan langsung menuangkan air mendidih ke dalam seduhan kopi tapi biarkan sejenak suhu air mendidih berkurang, agar tidak terjadi pembakaran kembali pada kopi. Saat merasakan kopi, jika ingin mengetahui orisinalitas rasanya, jangan menggunakan pemanis baik itu gula putih atau gula merah. Saat meminum, hampir sama dengan metode minum wine, biarkan kopi mengendap di mulut beberapa saat, biarkan semua indra pengecap di lidah tersentuh kopi lalu telan. Hmm…buat saya sendiri yang bukan penikmat kopi, bisa merasakan perbedaannya. Membedakan rasa dari jenis kopinya, dan membedakan rasa dari cara meraciknya.

O iy, kenapa kupi??? Kupi adalah pelafalan rakyat Atjeh untuk kopi. Kedai-kedai (tempat minum kopi) yang ada di Aceh menulis plang-plang
kedai kopi mereka dengan kupi. Di Aceh Besar, saya dan Reni melanjutkan petualangan berburu kopi. Ada satu tempat minum kopi yang sangat terkenal bagi orang Aceh, yaitu Dapu Kupi. Kata Pak Dedi, guide kami di Aceh kalau tempat ini adalah tempat gaulnya anak-anak muda di Aceh. Benar saja, saat kami datang, berjubel manusia berkumpul di sana. Tak hanya anak muda, banyak juga keluarga yang datang. Kami disarankan mencoba sanger, (menyebutnya dengan vocal e kecil). Sanger adalah kopi yang dicampur dengan sedikit susu kental manis, dimana rasa kopi lebih dominan. Berbeda dengan kopi susu kawan, karena kalau memesan kopi susu maka susunya yang dominan daripada kopinya. Rasanya, hmmm….amboi benar.

Anekdot yang saya simpulkan dari kopi bagi rakyat Aceh, “kopi adalah mediasi perdamaian dan silaturahmi”. Kopi menjadi perantara bagi mereka yang sedang bertikai untuk berdamai. Kopi menjadi perantara bagi mereka yang hubungannya sedang renggang untuk kembali harmonis. Kopi menjadi perantara bahkan sebagai kawan bersama. Karena Kupi adalah Aceh dan Aceh adalah Kupi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s