Petualangan Air * Rumah Pohon #4

Batang pohon jambu itu terlihat kekar menopang sebuah rumah yang dibuat di atasnya. Ini adalah rumah pohon terhebat yang pernah aku lihat, karena memang baru sekali ini aku melihat rumah pohon. Aku dan Bat hampir tidak mengedipkan mata sama sekali saat melihat bangunan megah itu. Seperti saat pertama kali aku melihat Isabela sedang bermain ayunan waktu TK. Kapan-kapanlah aku ceritakan bagian ini. Bagian di mana aku coba merobohkan fondasi memalukan bagi kami anak laki-laki, yang bernama AIB jika duduk satu bangku di sekolah dengan anak perempuan. Semua aku lakukan demi Isabela *argh, cinta bocah ingusan memang gila.

“Hei kalian, jagan berdiri di situ saja. Ayo naik!!”

Lamunan kami pecah, Yufi mengajak aku dan Bat naik ke rumah pohonnya. Tapi kami masih saja terpatung. Pandangan kami sejurus dengan anjing hitam Yufi. Saling menatap. Yufi langsung mengerti. Dia melepas ikatan si anjing siro dari pohon dan mengikatnya disamping pintu gudang belakang rumahnya.

Rumah pohon yang indah, jaraknya dari tanah tidak tinggi. Tidak sampai dua meter. Untuk naik ke atas ada tangga kecil di depannya yang dipagari oleh pegangan.

Kami langsung naik, sementara saat Yufi kembali dari gudang belakang kami sudah berada di rumah pohon.

Hei, kalian anak laki-laki tidak sopan!!”

Mengacuhkan perkataan Yufi yang juga langsung naik untuk memandu kami agar tidak terlanjur liar.

Baiklah..ini adalah istanaku, dan silahkan masuk!? :)”

Aku terpesona melihat ke dalam, ruangan berbentuk kotak yang tidak luas, namun sangat cocok dijadikan markas. Ruangan rumah pohon ini bisa menampung 5 orang anak kecil menurutku. Ada bohlam lampu di tengahnya. Atap yang terbuat dari rumbai-rumbai daun kelapa yang ditumpuk di atas seng agar meredam panas. Dinding kayu yang terlihat klasik karena terdiri dari beberapa susunan kayu bekas. Di rumah pohon Yufi, karena dia anak perempuan, ada beberapa boneka dan peralatan masak-masakan. Rak buku yang diisi komik-komik anak perempuan. Lantainya kayu tak beralas, di pojok ruangan ad kasur kecil yang digulung.

“Yufi, kenapa rumah pohonmu tidak memakai pintu? ” Tanyaku

Iy..ayahku sengaja tidak memasangnya agar ayah atau ibu bisa melihatku langsung dari rumah.”

Suasana sejuk begitu terasa, karena rumah pohon ini terletak disekeliling rerimbunan pohon-pohon buah. Bat akhirnya menceritakan tujuan kami yang mencari tempat atau markas buat kami tinggal. Bat menceritakan kisah kami mulai dari saat markas ilegal di posyandu dan musibah yang menimpaku yang membuat Bat merasa bersalah.

Banyak bercerita, ternyata Yufi satu sekolah dengan kami, tapi dia kelas 4 dan kami kelas tiga.

Yufi, rumah pohonmu keren. Aku dan Air, sangat ingin punya markas seperti ini. Terimakasih sudah mengajak kami bermain di rumah pohonmu”.

“Kalian bisa main kapan saja kok ke sini!” kata Yufi

Kami berpamitan dan bahagia tidak ketulungan. Sepanjang jalan, melajukan sepeda menembus angin, kami tak hentinya berbicara tentang rumah pohon yang akan menjadi markas kami nanti. Markas bocah-bocah petualang.

2 thoughts on “Petualangan Air * Rumah Pohon #4”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s