Karya Sang Jurnalis

Ketika pertama kali datang ke Jakarta sebagai calon jurnalis (waktu itu baru akan tanda tangan kontrak kerja), saya nginap di kamar kos teman yang juga seorang jurnalis. Ketika malam akan tidur teman saya menyetel alarm di handphone-nya untuk bangun besok pagi. Pikir saya dia mau bangun pagi untuk masuk kerja.

“Kriingggg!!!!!”

Pagi hari bunyilah alarmnya, dia bangun dan saya pun ikut terbangun. Sayup-sayup saya melihat dari balik jendela matahari belum menerangi bumi. Tiba-tiba dia langsung mengambil remote dan menyalakan TV nya.

Dia menonton program berita di divisi yang dia tempati bekerja. Saya perhatikan, dia seperti menunggu sesuatu dari acara berita tersebut. Tibalah pada satu segmen di acara berita itu,dia langsung mengeraskan volume TV. Dengan serius dia memperhatikan dan menyimak berita itu. Tidak lebih dari dua menit, ya..tak lebih dari dua menit. Setelah itu dia menarik nafas panjang sambil mengangkat kedua tangannya ke atas seperti baru menang lotre dan tersenyum lebar. Ada apa gerangan??? Dia menengok ke arahku masih dengan senyum lebarnya dan berkata.

“Liputan gue bro!”

Setelah itu dia langsung merebahkan badannya kembali dan melanjutkan tidur. Masih tampak sisa dari senyum lebar tadi di wajahnya. Saya cuma terheran.

Sampailah ketika saya sudah menjadi seorang jurnalis di Trans TV. Kebetulan saya ditempatkan di divisi news dengan program berita bernama Reportase. Barulah saya mengerti arti dari senyum lebar penuh kepuasan dari teman saya.

Bertarung di lapangan seharian untuk meliput peristiwa dengan peluh dan lelah. Belum lagi ketika harus bertarung dengan teriknya sinar matahari atau menunggu seharian demi mendapatkan secuil gambar atau satu kata saja dari narasumber.

Semua aktivitas itu terbayar ketika liputan itu tayang dan tersampaikan pada masyarakat. Rasanya lega dan puas, perasaan bangga dan haru menghinggap di dada yang memberikan semangat lebih untuk menghasilkan karya-karya lainnya.

Sampai sekarang, saya sering kali tidak ingin melewatkan untuk menonton berita Reportase sebagai tempat dimana karya saya bisa ditampilkan. Tak hanya ingin melihat karya saya, tapi juga melihat karya teman-teman sepenanggungan yang pastinya tersenyum puas ketika melihat karya mereka di tampilkan ke masyarakat Indonesia.

Bagaimana seorang jurnalis tidak menganggap tugasnya sebagai pekerjaan. Tapi bagaimana menganggap bahwa dalam tugasnya dia sedang membuat karya, yaitu Karya Jurnalistik. Waw, lega dan meletupkan semangat.

Note : Tulisan ini saya persembahkan kepada rekan kerja kami, Ismiati Soenarto dan Aditya Sukardi yang gugur dalam tugas pada tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi. “Karya-karya kalian hebat kawan!!”

3 thoughts on “Karya Sang Jurnalis”

  1. wow, tulisan yang bagus. saya juga sempat berfikir demikian, dengan menjadi jurnalis saya merasa pekerjaan adalah ibadah ya seperti ini. berusaha sekuat tenaga bukan hanya untuk uang, tapi kemudahan orang lain memperoleh berita dan manfaat dari berita itu. good reporter. semangat terus bung!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s