Lucy hilang di Gunung Rinjani!!

“LUCY….LUCY!!!”

“LUCY…!!”

Kami memanggil Lucy yang hilang terpisah dari team. Suara kami terbawa oleh angin yang membawa kabut tebal dari kawah menuju puncak Rinjani. Pandangan hanya berjarak kurang lebih 1 meter. Angin kencang bersiul tajam di telinga kami. Suasana hening dan membuat kami panik kehilangan Lucy.

Semua ini bermula dari salah pengertian. Lucy saat itu meminta ijin untuk jalan duluan kepada Mas Ardi. karena Lucy, saat pendakian hari pertama kemarin selalu tertinggal dari team. Dia tidak ingin membeni kawan-kawan yang harus selalu menunggunya, karena itu dia ingin berjalan duluan. Mas Ardi adalah  pendamping kami dalam perjalanan di Pulau Lombok. Yang menjadi salah pengertian adalah Mas Ardi mengira Lucy meminta ijin untuk menunggu kami di pintu Plawangan Sembalun tempat kami akan memulai turun nanti yang jaraknya hanya 100 meter dari basecamp kami menginap. Saat itu kami juga taunya kalau Lucy akan menunggu di sana.

Pagi itu kami sedang packing untuk melanjutkan perjalanan dari Basecamp Plawangan setelah subuh tadi kami mendaki menuju Puncak Rinjani. Di hari ke-dua ini kami akan melanjutkan perjalanan menuju Danau Segara Anak.

Danau Segara Anak dari Pucak Rinjani

Kami sudah hampir terlambat karena hari sudah hampir siang. Rombongan pendaki lain sudah sejak tadi menuju Danau Segara Anak. Rieka akhirnya juga selesai packing dan mulai berjalan menyusul Lucy. Aku melihat pemandangan yang tidak biasa. Ada seekor anjing putih yang menemani Rieka, seperti sedang menuntun untuk menunjukkan jalan. Aku melihat anjing putih itu sejak kemaren saat pendakian awal kami melalui Jalur Sembalun. Pertama kali bertemu anjing putih itu saat memasuki pintu bukit penyesalan. Dinamakan bukit penyesalan karena saat mendaki, dari bawah terlihat puncak bukit, namun saat ketika sampai ternyata masih ada bukit lagi dan bukit lagi. Sambil terus berjalan aku berpikir kalau anjing putih itu memang seperti sedang menunjukkan jalan. Di basecamp pun saat kami di tenda, anjing putih itu duduk dan tidur di luar menemani.

Tak berapa lama Rieka berjalan, kami pun menyusul. Mas Rony salah seorang teman asli Lombok yang ikut dalam perjalanan kami. Dia adalah teman yang diajak oleh Mas Ardi. Berjalan duluan menyusul untuk memastikan Lucy dan Rieka sudah menunggu di depan. Di susul Mas Ardi dan aku. Aku memang selalu berjalan di belakang dalam rombongan. Lucy dan Rieka selalu di depan.  Jarak kami tidak pernah jauh, dan selalu dalam jarak pandangan.

Formasi Trekking Rinjani

Seperti kemaren aku berjalan santai sambil menikmati pemandangan yang mulai tertutup kabut. Cuaca hari itu memang tidak menentu. Kabut bisa tiba datang dan pergi sekehendaknya. Dan seperti biasa, porter kami tinggalkan karena mereka harus membereskan tenda dan perlengkapan masak dan logistik.

 “BRAKK…!!”

Tiba-tiba Mas Rony menjatuhkan tas carriernya ke tanah. Dia langsung berlari kencang menuju jalur yang kemaren kami Lewati. Aku tidak melihat Lucy bersama Rieka. Anjing putih itu pun sudah tidak ada lagi. Seketika perasaan tidak enak menghinggapi dadaku. Mas Ardi juga berlari  menuju Rieka. Aku pun menyusul. Tergopoh-gopoh berjalan cepat sambil membawa carrier. Ketegangan menyelimuti mendahului kabut.

“Ada apa Mas?”

“Rieka, di mana Lucy?” aku bertanya panik.

Mas Ardi tidak menjawab dan bergegas menyusul Mas Rony.

”Tadi aku lihat Lucy jalan ke sini, aku kira dia nunggu di sini “.

 Rieka menjawab sekenanya. Dia sempat melihat Lucy berjalan di depannya, dan teralihkan oleh kehadiran anjing putih yang menemaninya tadi.

Mas Rony dan Mas Ardi berlari ke arah jalur kami pertama naik kemarin karena merasa Lucy menunggu di sana. Keadaan bertambah tegang karena ternyata Lucy tidak ada menunggu di sana. Mas Ardi kembali dan mengabarkan kalau Lucy tidak ada di sana. Mas Rony masih di sana dan turun mencari kalau saja Lucy turun melewati jalur kemarin.

Seketika kabut tebal makin menyelemuti Gunung Rinjani, terbawa angin yang terus berdesing seperti siulan hantu gunung yang merongrong.

“LUCY….LUCY…LUCY!!!”

“LUCY..LUCY!!!”

“LUCY!!”

Kami memanggil-manggil keras, namun sama sekali tidak ada jawaban dari Lucy. Angin membawa lari suara kami ke Pucuk Rinjani tanpa bekas. Suasana benar-benar seram saat itu. Pikiran negative yang muncul saat itu langsung aku lenyapkan. Mulai dari anjing putih sang penjaga dan penjemput, ntah apalah namanya. Sampai pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi tak terlihat ujungnya karena tertutup kabut. Seperti ada yang menghinggapi fikiran kalau Lucy di lamun penghuni Rinjani. Aishhh….!!

Semuanya mencoba tenang, dan berharap Lucy baik-baik saja. Sampai kemudian datanglah para porter yang akhirnya juga ikut membantu mencari Lucy. 2 orang porter menyusul Mas Rony untuk membantu mencari Lucy. Kepanikan bertambah karena porter yang berjaga bersama kami menceritakan kalau dulu pernah ada orang yang jatuh terperosok ke dalam jurang dan mayatnya di temukan setelah beberapa tahun.

Porter Superman…!!!

“UOII!!!”

“UOIII!!!”

Para porter saling memberikan kode dari kejauhan, seperti komunikasi lewat HT yang biasa di gunakan oleh komunitas radio orari dan lainnya. Memberikan sandi awal sebelum berkirim informasi. Mereka berteriak kalau Lucy tidak ada.

Asumsi muncul kalau Lucy sudah turun duluan lewat jalur yang memang akan kita lewati. Akhirnya salah seorang porter tercepat turun ke bawah duluan sambil memanggul barang bawaan yang super berat. Aku sendiri menyebut mereka “Porter Super”. Beralaskan sandal jepit dan sarung sambil memanggul beban berat mereka bisa melaju berjalan sangant cepat naik dan turun gunung dengan medan yang tidak mudah. Dia mengatakan akan mengabarkan lewat SMS kalau dia bertemu Lucy di bawah.

Mas Rony dan para porter kembali dengan tangan kosong. Mereka tidak menemukan Lucy. Mas Rony mengatakan dia sampai memeriksa daerah yang terjal dan curam tempat jurang berada. Tapi tidak ada, dan kabut tebal menutupi pandangan. Harapan satu-satunya yang kami semua harapkan adalah Lucy ada pada jalur yang benar dan akan bertemu dengan poter yang menuju ke bawah.

Kami rombongan menunggu di atas dan sangat cemas. Kami tidak mungkin untuk menyebar dan mencari Lucy, malah akan menambah masalah nantinya. Aku dan Rieka duduk berdua terpisah dari rombongan lain yang menunggu. Hanya berjarak 5 meter tapi tertutup oleh dinding kabut yang tebal seperti terpisah ribuan meter jaraknya.

Rieka merasa bersalah karena tidak melihat Lucy berjalan ke arah mana, dan sedikit kesal karena Mas Ardi marah kepadanya karena tidak mengawasi Lucy. Rieka mengatakan jika terjadi hal seperti ini dalam team kita tidak boleh menyalahkan atau saling menyalahkan, apalagi saat naik gunung. Itu adalah tanggung jawab bersama. Aku pun paham mungkin karena mas Ardi mungkin panik, dan kami semua adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai pendamping. Memang, yang terpenting dalam pendakian adalah team harus selalu bersama saat berjalan.

Mas Ardi sudah sangat berpengalaman dalam hal ini. Mas Ardi yang merupakan salah seorang pendiri Rakata Adventure sering menghadapi hal-hal seperti ini. Terlibat dalam aksi penyelamatan. Itu terlihat saat dia langsung membagi team pencari darurat dalam keadaan seperti ini. Berfikir cepat menanggulangi kepanikan dan berfikir cepat merencanakan tindakan penyelamatan.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya kami mendapatkan kabar baik. Lucy memang ada di bawah. Dia berjalan sendirian ke bawah. Di mana hal itu tidak boleh di lakukan oleh seseorang dalam pendakian. Poter mengabarkan Lewat sms. Mas Ardi menyuruh mereka untuk menunggu.

Perasaan lega dan bahagia, serentak kami mengangkat carrier untuk melanjutkan perjalanan. Senyuman mulai terlihat dari wajah-wajah yang panik. Mas Ardi mengintruksikan untuk berjalan, kemudian formasi terbentuk : Rieka, Mas Rony, Mas Ardi, aku , dan para porter.

Kurang lebih 15 menit menuruni bukit curam berbatu, dengan udara yang tipis di Gunung Rinjani yang memiliki tinggi 3726 di atas permukaan laut ini, membuat aku seperti berjalan seharian penuh sambil mengangkat sebuah carrier yang berisi beton-beton baja.

Dari balik kabut samar-samar kami melihat Lucy dan berteriak hampir bersamaan

“LUCYYYYYYYY!!!!”

Belum sampai, Lucy langsung berteriak meminta maaf karena memisahkan diri dari team. Kemudian dia menjelaskan kalau dia tidak ingin merepotkan team yang harus selalu menunggunya karena terlambat dan berhenti untuk beristirahat.

Kami berhenti sejenak di tengah jalan untuk mencairkan suasana. Mas Ardi mengatakan agar jangan pernah melakukan hal bodoh seperti ini lagi, walau bagaimanapun kita adalah team yang harus selalu bersama. Mau bagaimanapun keadaan salah seorang di dalam team kita harus selalu bersama dan saling membantu. Mas Ardi juga meminta maaf pada semua karena telah mengijinkan Lucy jalan duluan.

Teman-teman, tujuan dalam perjalanan kita ini adalah untuk bersenang-senang dan menikmati alam Indonesia. Hal seperti ini dalam organisasi dan team memang kadang terjadi. Jika terjadi hal yang tidak kita inginkan seperti ini terjadi hal yang paling penting adalah komunikasi dan informasi agar bisa menanggulanginya secara cepat”

Berkat pengalaman Mas Ardi, Mas Roni, dan juga para porter yang sudah sangat paham dengan medan yang ada di Gunung Rinjani ini, kejadian ini bisa cepat ditanggulangi. Adalah sangat penting jika kita ingin melakukan suatu perjalanan adalah bersama dengan orang-orang yang sudah faham dan mengetahui keadaan lokasi yang akan kita tuju.

Celetuk canda spontan muncul kembali karena semua kembali berkumpul. Berkumpul sebagai keluarga, berkumpul sebagai team NTB 1 ACI (Aku Cinta Indonesia) dari Detik.com .

Aku tidak akan pernah lupa betapa hebatnya perjalanan kita. Bisa mengenal kalian dan mejadi keluarga yang penuh canda. Kadang ada pertengkaran kecil tapi itu yang membuat kita semakin kuat. Aku tidak hanya menjadi semakin cinta pada Indonesia. Tapi aku juga cinta kepada kalian semua. Bahkan setelah perjalanan kita berakhir dan kita kembali pada aktivitas kita masing-masing, aku masih saja terus merindukan kalian. Suatu saat aku ingin berkumpul bersama kalian dan melakukan perjalanan hebat lainnya di tanah Indonesia yang indah ini. I LOVE U GUYS, I LOVE INDONESIA

Tapi aku masih bertanya dalam hati

“Di mana anjing putih itu?” JENG JENG…!!!

Note :

–          Dalam pendakian, jangan pernah terpisah dari team. Team adalah tempat menyandarkan lelah dan tempat pengobar semangat ketika tubuh telah mencapai titik nol.

–          Jika anda melakukan pendakian, jangan pernah bertindak sembarangan dan jagalah kebersihan gunung.

–          Tiap tempat memiliki cerita mareka masing-masing. Maka hormatilah tempat-tempat yang anda datangi beserta apa yang ada di sana.

Profil Team

  1. Lucy : Gadis pendiam keturunan Tionghoa yang memiliki semangat baja dan jago diving.
  2. Rieka : Gadis tangguh yang sangat care terhadap semua orang (dia seperti ibu buat kami)
  3. Aku (Ivan Batara) : Anak Sorowako… itu sudah!!😀
  4. Mas Ardi : Lelaki perkasa , kepala keluarga team NTB 1😉 *u are d best
  5. Mas Rony : Pemuda Asli Lombok (tanpamu kami hilang mas bro🙂 )
  6. Poter : Pasukan Detasemen Supermen (Gokil tu orang pade..beughh)😀

Foto-foto pendakian hebat ini bisa di lihat di sini

3 thoughts on “Lucy hilang di Gunung Rinjani!!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s