Tukang Sapu Mulia

image

Siang terik di satu sudut kota Jogjakarta. Di Bulan Ramadhan ini, masjid adalah tempat paling populer di datangi para pejalan ataupun kuli seperti saya ini. Di samping untuk singgah melaksanakan sholat, masjid juga di jadikan tempat singgah untuk bernaung dari teriknya Matahari siang. Setelah melaksanakan sholat banyak orang-orang yang kemudian melanjutkan ibadah mereka. red: tidur🙂

Setelah sholat, saya beristirahat di teras masjid yang adem tentram nan dingin. Barisan lantai ubin merayu manja mengajak saya untuk berbaring merebahkan badan. Banyak yang sudah termakan rayuan”nya” dan kini tengah berada di awang-awang dilamun mimpi. amboi betul!! Rayuan maut itu kali ini tidak berhasil *berarti kemarin” iy :p* Perhatian saya tertuju pada seorang bapak yang tengah asyik menyapu membersihkan halaman masjid dari lautan daun kering yang berguguran di musim panas ini. Dengan teliti dan terorganisir bapak itu menyapu area halaman sebagai medan tempurnya yang sudah amat dia hapal. Mungkin jatuhnya daun bisa ia ketahui letak dan waktunya.

Bapak itu sama sekali mengabaikan terjangan teriknya matahari siang bolong. Yang saya amati, bapak itu dengan sepenuh hati melakukan tugasnya bukan karena kewajiban ataupun imbalan,melainkan karena ikhlasnya mencari ridho Allah dari pekerjaannya.

Setelah halaman bersih, bapak tukang sapu itu meletakan senjatanya yaitu sapu dan serok. Dia menuju tempat wudhu. Berwudhu lalu melaksanakan sholat. Hari terik ini, angin bertiup kencang, tak diragukan lagi orang-orang yang tertidur di teras masjid semakin jauh melayang ke alam mimpinya. Tapi dedaunan kembali membanjiri halaman masjid.

Selesai sholat, bapak tukang sapu itu kembali melangkah dengan gagahnya untuk kembali ke medan tempurnya. Di ambil senjatanya kemudian bapak itu melihatku sekilas sembari tersenyum seperti mengatakan “Aku kembali ke medan jihad boi!!” Dengan tekun bapak itu menyapu helai demi helai daun kering ke dalam seroknya. Jika saja daun-daun kering itu emas, jika saja daun-daun kering itu pahala. betapa kayanya bapak itu dan betapa tentram hatinya.

Tak lama,halaman masjid kembali bersih. Bapak tukang sapu itu kemudian duduk di bawah teduhnya pepohonan yang mengelilingi masjid untuk sejenak melepas lelahnya. Dan tak lama pula, daun-daun kering jatuh lagi bertemu bumi. Sang bapak dengan senyum bahagia ikhlas kembali seperti memang sangat menantikan dedaunan kering itu datang kembali dan lagi.

Posted from WordPress for Android

One thought on “Tukang Sapu Mulia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s