Eko Nursanty: Suatu sore di Prambors FM – Semarang

Kemarin, sebuah stasiun radio Swasta di Indonesia, Prambors mewawancarai saya.
Kami mengobrol sekitar 1 jam tentang aktivitas saya sebagai seorang backpacker,
Uti sang penyiar betul-betul memukau saya dengan gaya “fresh” banget.

Awalnya mereka menemukan nama dan contact saya melalui internet saat browsing, tapi waktu saya
kejar melalui kata kunci apa saja mereka menemukan nama saya, Mbak Uti bilang,
itu penemuan mas Terong, sehingga pertanyaan itu masih tersimpan di benak saya sampai saat ini.

Kami mengawali obrolan dengan kata-kata betapa menariknya kehidupan seorang backpacker
karena bisa melihat banyak hal baru di tempat-tempat baru yang tadinya hanya bisa dibayangkan.
Kemudian, perlahan-lahan saya mulai menceritakan perjalanan yang saya lalui dan menjadi
PEMBEDA saya dengan para backpacker yang ada.

Wawancara ini bersifat santai dan ringan, tapi akhirnya saya berfikir menuliskannya dengan
menambahkan kedalaman analisis berdasarkan segala hal yang telah saya lakukan selama ini
agar lebih berguna bagi dunia pendidikan di Indonesia.

1. I’m a lecturer and making some researches about backpacker and tourism architecture.
Saat muda, saya bukan tukang jalan-jalan. Saya senang komputer dan internet meskipun saya sekolah di jurusan arsitektur.
Namun, sejak kecil saya sering ikut orang tua yang berpindah-pindah tempat dan itu memberi rekaman di benak saya bahwa tempat-tempat baru tidak pernah membosankan meskipun sangat berbeda dengan tempat yang selama ini saya kenal.

Itu sebabnya backpacker bagi saya adalah sistem pembelajaran yang tercakup didalamnya berupa :
– nilai-nilai kemandirian dalam segala kondisi meskipun dalam kondisi terburuk yang pernah ditemuinya,
– rasa ingin tahu yang tiada habis mendorong kita menanyakan sesuatu terus menerus pada siapapun dengan teknik apapun,
– kemampuan beradaptasi membuat kita menjadi semakin arif dalam berstrategi dan terus merencanakan yang terbaik tanpa peduli bahwa sekeliling kita meragukan, pernah mencoba dan gagal…..NO WAY…..I will try and make my dream come true.


2. My dream is : more traveling make you smarter.

Berdasarkan hal-hal diatas, tidak ada lagi istilah tukang jalan-jalan adalah manusia bodoh.
Manusia menjadi bodoh karena tidak punya waktu untuk mempelajari sesuatu dan meningkatkan
kemampuan dirinya. Tidak peduli dia arsitek, insinyur atau master lulusan cum laude,
tanpa belajar setelah kelulusannya…………..

.PASTI dia akan merasa menjadi bodoh.
Tapi berdasarkan nilai-nilai yang tercakup dalam proses persiapan seseorang menjadi backpacker,
mencari tahu dan belajar tentang hal yang awalnya tidak kita tahu akan menjadi life style kita.
So, semakin sering kita jalan, semakin cerdas kita……itu impian saya terhadap semua mahasiswa saya.
Apa lama2 kita nggak bosan ??
Jujur, dalam dua tahun ini, sudah 13 kali saya ke Singapore dan 7 kali ke Kuala Lumpur (selain kota-kota lain yang jumlahnya tidak sebanyak dua kota diatas).
TAPI, siapa yang pernah bosan, kalau setiap kali dapat kiriman info2 terbaru dari semua sumber
tourism yang ada. Siapa yang menyangkal, berjuta manusia di sekeliling kita berusaha membuat
banyak perubahan dalam setiap hari yang mereka lalui.


3. Good habbit, because you’re a backpacker.

Apakah itu akan membuatmu tidak focus berkarya dan hanya ingat jalan-jalan ?
Hal terbaik dari para traveler adalah memberikan yang tebaik kepada siapapun, kapanpun dan di manapun, karena kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan membantu saat kau dalam perjalanan dan jauh dari rumah dan keluargamu.
Kebiasaan terbaik ini menjadikanmu selalu melakukan hal terbaik juga saat melakukan karya di manapun kau berada dan bekerja. Tidak peduli orang lain tidak melakukan hal yang sama, karena kau tahu di tempat lain, kau juga bertemu dengan orang yang tiba-tiba membantu dan mendukungmu meski tak pernah mengenal mereka sebelumnya.


4. Explore some places out your country made you more NATIONALIS than before.

Sepintas, banyak terdengar ketakutan para orang tua, anaknya menjadi kehilangan rasa nasionalis setelah banyak melihat negara lain yang jauh lebih maju dan modern dibanding negaranya sendiri.
Percayalah, saat pertama menemukan masakan berbeda di negara lain, yang ada adalah rasa rindu pada masakan Indonesia. Lucu banget saat beberapa sahabat mengajak saya mencoba sebuah restoran mewah India yg baru saja buka di Indonesia.
Di banyak tempat saat traveling, satu-satunya pilihan masakan muslim yang bisa saya pilih adalah Restoran India, di area muslim dengan penjual yg asli India pake bahasa dan pakaian India.
Gak…..doyan……banget……!!!! karena terbayang martabak dekat rumah yang rasanya bikin lidah keluar spontan hehehe…..

Kerinduan mendorong kita memberikan dan merencakan hal terbaik untuk sesuatu yang kita rindukan.
Saya banyak mengalami saat berdiskusi di kampus, banyak orang menghujat banyak hal tentang permasalahan yang ada di kota Semarang.
Dan saat saya berdiskusi dengan teman-teman Indonesia di Malacca saat melihat potensi ruang
kota mereka yang mirip Semarang dan telah rapi terpecahkan.
Kalimat kita akan berubah seperti ini, “Rasanya kita juga bisa seperti ini”………that’s nationalism for me.
Tentu saja tidak ada kata putus asa untuk sorang yg sedang melakukan wisata, rasa exiting itu tidak
memberi kesempatan untuk menyesali diri.


5. Found so many new friends and new cultures made you an awesome person.

Bertemu banyak orang baru, tentu membuat kita menghargai segala perbedaan yang ada.
Kalau nggak mau ada perbedaan, ngapain jauh-jauh melakukan perjalanan ke tempat yang jauh khan ?
Siap dengan segala perbedaan membuat kita menjadi orang yang nyaman bagi siapapun.
Modal utama kita menjadi backpacker, tentu karena kita punya rasa percaya diri bertemu dengan
orang-orang baru beserta budaya yang mereka miliki. Percaya diri ini akan bertemu dengan
kekaguman kita pada hal-hal yang berbeda dan pernah kita baca sebelumnya.
Dan ini semua membuat kita tersenyum langsung dari hati, tentang segala hal yang ada di depan kita meskipun hal itu adalah hal yang tidak akan pernah kita lakukan.


6. Dream every time about so many places made you keep spirit forever.

Full of motivation to live without boundaries in a world with no limit.
Siapapun tahu, impian adalah motivasi hidup. Bagaimana kita menjalani hidup sangat bergantung
dari impian yang kita rangkai sebelumnya.
Terkadanng kita menemukan bahwa apa yang kita dapat sangat berbeda jauh dengan apa yang
kita impikan. TAPI, coba check, apakah cara kita menjalani hidup memang sesuai dengan impian kita ?

Saat saya kuliah S2 arsitektur, saya tidak mampu membayar biaya Kuliah Kerja Lapangan ke Sinngapore, sekitar 12 tahun yang lalu.
Menurut saya, saya tidak memimpikan untuk pergi ke Singapore dan saya tidak peduli pada
hal itu. Impian saya adalah menjadi dosen, hidup bersama computer dan internet yang sangat saya
cintai, yang terbanyang waktu itu hanya bisa membuat diktat-diktat dalam bentuk Ebook.
Kemudian bertemu dengan temen2 baru, di tempat yang jauh.
Saya diminta menjadi moderator sebuah group traveling di Indonesia.
9 bulan sesudahnya diminta pindah menjadi moderator di group traveling internasional,
sekaligus menjadi Ambassador untuk Indonesia pada komunitas Travelersfortravelers dari Belanda.
Setelah itu, negara lain termasuk Singapore bukan lagi tempat yang jauh,
semua teman saling berkunjung satu sama lain……..

MUNGKIN, dalam hati dulu saya juga bermimpi mengunjungi Singapore…..??
Yang saya ingat, impian terbesar saya 2 tahun lalu adalah MEMBAWA MAHASISWA SAYA KE SINGAPORE….hahaha……

Dan tidak terlalu ingat bahwa saat saya gagal jadi mahasiswa KKL ke Singapore, apa yang ada dalam pikiran saya yah ??? hehehe…..


7. How about budget in journey ?? Let’s use my ways…….hehehe…..

Saya akan tulis ini pada tulisan berikut, berdasarkan tulisan-tulisan pendek yang
saya buat untuk menjawab pertanyaan dari beberapa newbie di Travelers For Travelers.

Fb : Eko Nursanty
Beliau adalah ambasador Indonesia untuk komunitas Travelers For Travelers
Email :
santy@travelersfortravelers.com
semarangbackpacker@yahoo.co.id
santy@semarangbackpacker.com
Website :

3 thoughts on “Eko Nursanty: Suatu sore di Prambors FM – Semarang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s