Prolog : Wanita Embun Pagi

Pagi yang cerah ketika matahari memancarkan sinarnya dari timur dunia, pohon-pohon rindang dengan daun-daun hijaunya yang masih basah oleh embun semalam. Tampak riang berceloteh sekelompok burung pipit yang terbang, melompat dan hinggap di dahan ranting pohon. Mereka  asyik berdiskusi membicarakan satu tempat dengan hamparan sari-sari bunga dan biji-biji buah yang telah matang untuk di santap sebagai sarapan pagi mereka.

Masih pukul 5.30 pagi. Pemuda itu telah bersiap melakukan kegiatan rutin paginya dengan bersepeda mengelilingi kota pelajar Jogja tempat dia tinggal. Dengan sepeda gunung warna biru dan kamera poket yang diselempangkan di pinggangnya, pemuda itu bersiap kemudian semangat mengayuh pedal sepedanya menanti bersihnya udara pagi. Menyegarkan pandangan mata menikmati pemandangan kota dan mengambil moment-moment pasti dengan kamera poketnya.

Pagi itu jalan begitu lenggang, belum banyak kendaraan yang lalu lalang, udara segar masih bisa dinikmati dan belum terkotori oleh timbale kendaraan-kendaraan yang membuat bumi ini kelabu oleh tumpukan polusi yang bisa merusak ozon. Sambil menikmati suasana pagi dengan kayuhan pasti pemuda itu teringat sebuah buku yang pernah dibacanya tentang Negara di Benua Eropa sana yang transportasi umumnya adalah sepeda. Semua masyarakat kota menggunakan sepeda dalam beraktifitas. Baik itu orang kantoran sampai tukang sapu. Jadi tidak terlihat perbedaaan yang ada antara si miskin dan si kaya . Jika tidak memakai sepeda maka masyarakat berjalan kaki. Dan untuk perjalanan jauh, mereka menggunakan kereta cepat bawah tanah.

Telah jauh berjalan pemuda itu melewati sebuah pasar yang sejak subuh tadi telah ramai oleh para pedagang yang mempersiapkan dagangan kebutuhan pokok rumah tangga. Sayur-sayur segar yang langsung di datangkan dari kota-kota luar Jogja, kentang-kentang segar, tomat-tomat beriring dalam keranjang diturunkan dari mobil buk pick up. Brokoli-brokoli segar, lombok dan cabe yang dihamparkan dipelataran pasar dengan timbangan dan kalkulator ‘ecek-ecek’. Para pedagang itu telah siap tempur dengan para pembeli. Pemuda itu berhenti sebentar untuk mengabadikan moment yang ditemuinya di pasar ini. Mulai dari pedagang daging yang sedia akan mengkapak daging segar dengan pisau besar persegi empat, para tukang becak yang bederet rapi diluar pagar pasar yang sedia mengangkut barang dan penumpang yang akan berbelanja. Ibu-ibu yang ramai memadati bersamaan para mahasiswi yang akan belanja kebutuhan sehari-hari yang masih memakai baju tidurnya.

Melanjutkan perjalanan paginya, pemuda itu terus mengayuh sepedanya dan sampailah pada sebuah tugu yang menjadi symbol kota pelajar itu, ialah tugu Jogja yang senantiasa menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Kota Jogja. Kemudian mengitari melewati Malioboro yang juga menjadi symbol sebagai tempat perbelanjaan di kota pelajar ini. Dimana di dalamnya tidak hanya ditemui orang-orang yang berjual beli, namun secara tidak langsung dapat ditemukan juga budaya-budaya serta kebiasaan orang-orang Jawa.

Telah hampir berselang perjalanan pagi dilewati pemuda itu, dia berhenti pada suatu simpang dimana banyak berkumpul orang-orang yang melakukan aktifitasnya. Pemuda itu berhenti di tempat pembuangan sampah di mana banyak berkumpul para pekerja dengan bak-bak sampah beroda dua berwarna kuning dan orange terbuat dari besi. Mengais dan mengumpulkan sampah kemudian memindahkan sampah-sampah itu ke bak mereka masing-masing hingga penuh. Suatu pemandangan tersendiri buat si pemuda yang kemudian di abadikannya dalam kamera poketnya.  betapa dia harus amat bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan kepada dirinya sekarang ini. Terlihat dengan ikhlas orang tua yang memindahkan sampah-sampah yang bau tanpa tau lagi aroma bau itu seperti apa karena telah terbiasa akan hidangan aroma paginya. Tampak seorang ibu yang menarik kereta sampah yang telah penuh. Dengan peluh dan keringat mereka menjalankan itu semua demi menyambung hidup. Membuat pemuda itu termenung dan berfikir.

Namun di sudut lain tempat pembuangan sampah itu ada pemandangan yang amat janggal di lihatnya. Bukan seharusnya pemandangan itu di letakkan di sana. Tampak seorang wanita muda berkulit putih bersih berwajah oval mengenakan busana muslimah. Berkerudung putih memakai sweeter woll biru muda dan rok panjang hitam. Pemuda itu berfikir seharusnya apa yang dilihatnya bukan disitu tempatnya, seharusnya wanita itu berada disekitar pemandangan masjid atau majelis-majelis pengajian. Apa yang dia lakukan di tengah-tengah sampah dan para pekerja.

Pemuda itu berada sedikit jauh dari tempat pembuangan sampah itu untuk mengambil gambar para pekerja yang sedang mengumpulkan sampah-sampah. Namun saat itu dia tertegun oleh senyum simpul seorang wanita yang tampak jelita melemparkan senyumnya kepada para pekerja. Tampak wanita itu mendeketi salah seorang ibu pekerja dan memberikan sebungkus besar barang di dalam plastic hitam yang ternyata isinya adalah nasi kotak yang bisa terbagi dan cukup buat semua para pekerja yang ada. Tak tertegun lama dan tak ingin kehilangan moment si pemuda langsung mengangkat kamera poketnya memotret beberapa kali wanita yang tengah tulus memerikan bantuan sarapan pagi bagi para pekerja.

Tampak senyum puas diwajah wanita itu, si pemuda bertanya-tanya ntah mengapa si wanita ada di sana. Tak beberapa lama , masih dalam pantauan si pemuda, wanita itu kemudian pamit pada semua pekerja di sana. Sambil menyalami santun seorang ibu pekerja wanita tanpa risih dan takut tangannya kotor, wanita itu kemudian berlalu menaiki sepeda motor maticnya.  Sebelum berlalu pergi sambil membelakangi sang pemuda, tampak tarikan nafas panjang akan kepuasaan ketulusan amal dari sang wanita. Menjauh , menghilang disebalik belokan di ujung jalan.

Siapa dia ? pemuda itu bertanya dalam hati. pemandangan yang janggal dan merasa bukan pada tempatnya telah menyentuh hati pemuda tersebut. layaknya daun kering yang terbasahi dan tertetesi embun pagi, sama seperti pagi yang indah ini. Perasaan berkelebat tak menentu .

Sepanjang perjalanan pulang pemuda itu termenung memikirkan sosok wanita tersebut. Dia sudah tidak lagi menikmati pemandangan di kanan kirinya, seperti pemandangan hari itu telah cukup sudah tergantikan oleh sosok wanita tulus yang baru dilihatnya. Perasaan tak menentu terus membuatnya bertanya. Ingin kembali bertemu dan melihatnya. Rasa penasaran yang sangat…… pagi itu begitu indah, dan pemuda itu menamakan hari itu dengan sebutan “Wanita Embun Pagi”

Pemuda itu berharap ingin bertemu kembali dengan wanita itu di suatu tempat dan di suatu saat yang juga tak terduga waktunya. Dengan semangat mengayuh pemuda itu tersenyum sambil memegang kamera pocketnya dan berkata dalam hati “ potret dirimu tak hanya di kameraku, tapi juga telah terparti di pikiranku”.

Cuplikan cerita  Wisdom of Happiness author by Ivan Batara

Apakah si pemuda akan bertemu dengan wanita itu kembali seperti apa yang ia harapkan? Tunggu lounching bukune. Hihihihi…..

16 thoughts on “Prolog : Wanita Embun Pagi”

  1. Hmmmmm…..ckckckc….jadi ini judulnya?… woww kereennn sungguh!….(gak tau lanjutannya tpi cuplikan ini, menurutku memiliki makna hidup sesungguhnya…..

    1. hmm…. judul dan penamaan tokoh sih belum plot, masih bisa berubah. hehe.

      Waduh, kl kata Bun memiliki makna hidup sesungguhnya…. hmmmmmm *speechless gw *_*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s