Ibu,kau bukan pengasuhku!

Disebuah bangku tunggu kantor imigrasi yang membentuk tiga shaf, duduklah beberapa orang yang bersiap-siap menunggu giliran untuk di panggil. Di bangku shaf terdepan yang telah penuh, terdapat dua orang wanita yang duduk berdampingan di sisi tengah, dan diapit oleh beberapa orang lelaki di kiri dan kanannya.

Wanita yang satu tampak cantik dengan olesan dandanan di wajahnya yang putih, dia memakai kacamata yang sangat pas dengan bentuk wajahnya yang bulat, rambut hitamnya yang mengkilau tampak melengkapi kecantikan wajahnya. Sepertinya dia wanita karir karena stelan yang dia gunakan adalah baju kantor berjas abu-abu dengan kemeja dalam putih yang dipadukan dengan rok selutut yang juga berwarna abu-abu yang berbahan kain sama dengan jas stylish wanita kantoran. Tampak tinggi semampai dengan memakai sepatu hak tinggi berwarna hitam.

Wanita yang satu lagi adalah seorang ibu yang hampir setengah baya dengan kulit sawo matang berwarna coklat yang tidak tampak polesan kosmetik apapun di wajahnya. Rambutnya yang sebatas leher pun tidak terlalu elok dan tidak terlalu tertata rapi. dia membawa tas besar yang dijinjing di tangan kanannya. dia memakai kemeja lepas berwarna putih bermotif kembang dengan celana panjang kain lusuh berwarna coklat. dan dia hanya memakai sandal japit yang tampak bersih. Tampak kontras sekali kedua wanita yang duduk berdampingan itu

Di sebelah wanita karir itu, diarah berlawanan dari wanita yang hampir setengah baya itu,ada seorang lelaki tegap dengan paras wajah tampan sedang bermain bersama kedua anaknya yang asik sibuk bertanya tentang banyak hal di tempat itu. Anak-anaknya yang pertama kira-kira berumur 8 tahun dan anak yang kedua kira-kira umurnya 5 tahun. mereka asyik bermain berlarian kesana kemari sambil bertanya berteriak pada ayahnya yang sibuk memperhatikan mereka.

Tiba-tiba saja wanita karir itu memanggil kedua anak itu beberapa kali dengan sebutan nama mereka, “Dara, bimo, ayo sini nak!, jangan lari-lari nanti jatuh”. Kedua anak itu lalu merespon panggilan wanita tersebut yang ternyata dia adalah ibu dari anak-anak itu. Kedua anak itupun berlari bersamaan menuju tempat wanita itu duduk. Masih dalam keadaan setengah berlari, sampai tepat di depan ibu mereka , kemudian anak yang paling kecil itu mengangkat kedua tangannya untuk memeluk ibunya, diikuti oleh kakaknya di belakang. seperti akan menangkap bola yang di lemparkan kepada mereka ketika mereka bermain. Ketika akan memeluk, tiba-tiba anak yang paling kecil itu malah bukan memeluk ibunya, malah dia memeluk wanita setengah baya yang ada disamping ibunnya dengan sayangnya, spontan pun kakaknya mengikutinya memeluk wanita tua itu. Ibunya yang ketika saat ingin memeluk kedua anaknya itu tampak tidak terlalu kaget. Karena terlihat malu, spontan wanita itu menarik tangan anak bungsunya kemudian menciuminya sambil mengatakan “duh, kamu keringatan lari-lari” dan berkata lagi “bibik, tolong tisunya !”. Sontak wanita tua itu dengan sigapnya mengeluarkan tisu dari tas besarnya yang dia jinjing di tangan kanannya.

Ternyata wanita tua itu adalah pengasuh kedua anak tersebut. Wanita yang senantiasa ada untuk mereka ketika kedua orang tua mereka sibuk dengan pekerjaan kantornya. rasa sayang mereka terlihat lebih besar kepada pengasuhnya daripada ibunya. Karena pengasuhnya lah yang banyak menghabiskan waktu di rumah bersama kedua anak itu. Bersama bermain, meyuapkan makan, memandikan, memakaikan baju, dll. Mungkin jika di tanya kepada kedua anak itu tentang apakah mereka lebih mengenal ibu mereka atau pengasuhnya. pasti mereka akan menjawab mereka lebih mengenal pengasuhnya. dan mungkin juga saat ibu itu menarik tangan anak bungsunya yang telah memeluk mesra pengasuhnya di ruang tunggu itu, anak itu mungkin ingin mengatakan “Ibu, kau bukan pengasuhku!”

6 thoughts on “Ibu,kau bukan pengasuhku!”

  1. Anak2 cenderung deket ma pengasuhnya itu sudah pasti gak dapat dihindari manakala kedua ortunya sibuk berkarir. Kalau ingin anak2 beroleh kasih sayang sang ibu, jalan satu2nya harus mengorbankan karirnya…Disinilah letak polemiknya. bila si ibu harus meninggalkan karir yang sdh diperjuankan selama ini, akan kehilangan rasa kemandirian, income berkurang tentunya (tinjauan dri sisi ego)
    Kalau penghasilan sang ayah dapat mencover kebutuhan dan masa depan anak2 mungkin gak masalah yaa tpi gimana bila sebaliknya?..
    Mungkin salah satu pilihan bahwa calon ibu sebaiknya menemukan kerjaan yang tdak menyita waktunya, tidak terikat oleh orang lain seperti misalnya berbisnis yang bangun sendiri dll,,, disinilah tantangannya, mengingat harus melibatkan bakat yg dimiliki setiap manusia (gak smua memiliki bakat bisnis)…….Pe-er..nih buat calon pengantin, calon ayah-ibu😀 (tentu gak lepas dari komitmen bersama/pasangan)

  2. no comment…
    setuju aja…

    tapi nggak segitunya kali si anak bakal ngomong, kalo versi gw sebagai anak ntu. Gw bakal ngemeng kek gini:
    “Ibu, kau bukan pengasuhku! dan pengasuhku, kau bukan ibu kandungku! jadi aku hebat bisa punya dua ibu… :D”, hahhaaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s