RUANG

Semakin sempitkah yang kau rasakan.

Sampai kau tak menyadari kehadirannya.

Padahal dia menunggumu merangkulnya.

Oh bukan, tersemyum melihatnya saja tak mengapa.

Bagianmu mulai terenggut keadaan yang terkontaminasi jaman.

Jangan salahkan mecin atas kebodohanmu.

Mecin tak salah apa-apa.

Padahal kau hanya mencari kambing hitam atas kebodohan yang mulai akut.

Tak ingin disalahkan, bahkan merasa tak bersalah. Egois

Mojoklah sebentar sendiri.

Tarik nafas kalau kau tak lupa caranya.

Biarkan oksigen sampai ke otak.

Berfikirlah, lalu tenggelam tenang dalam ruang.

Advertisements

MERONA MERAH

“Oi bujang, kau datang ke sini mau minum kopi atau melamun sampai hantu laut menyambar jasadmu?”

Lamunanku hambur saat wak harun menepuk pundakku. 

“Eh, wak..”

“Liat kopi kau tu, ampasnya sudah jauh mengendap ke dasar gelas, airnya sudah dingin, aromanyapun tak kau anggap. Kau seperti sedang selingkuh terang-terangan di depannya”

“Ah uwak bisa aja”. Aku tersenyum malu sambil menyeruput kopi hitamku yang sudah dingin.

Seperti hari lainnya, sore yang ramai dilapak kopi wak harun yang terletak di seberang pantai. Kelas warung kopi bintang lima untuk suguhan pemandangannya yang menghadap ke arah barat samudera pasifik. Gugusan pulau-pulau kecil dan semenanjung menjadi tembok penghalang gelombang angin barat, sehingga sepoi-sepoi saja saat sampai ke warung kopi wak harun.

Warung kopi yang terletak di sekitar pemukiman warga nelayan. Tak pelak, pelanggan kopi di sini adalah bapak-bapak nelayan. Pertama kali ke tempat ini saat perahu motor yang aku tumpangi harus merapat ke pesisir karena mesin motor perahu tiba-tiba rusak di tengah perjalanan. Saat itu aku akan melakukan spearfishing di laut lepas Lombok bersama teman-teman. Saat tiba di pulau, karena harus menunggu mesin yang diperbaiki kami berkeliling di sekitar pesisir sampai akhirnya menemukan warung kopi wak harun.

…. …. …..

Dan kali kedua, aku kembali ke pulau ini hanya untuk melarikan diri dari hiruk pikuk pekerjaan yang penat di ibukota. Sign surat cuti, pergi, melarikan diri, dan di sinilah aku, nongkrong di warung kopi. Jatuh hati ini saat pandangan pertama pada pulau yang terselip warung kopi dengan suguhan pemandangannya yang sangat indah. Dan untuk kali kedua aku kembali ke sini, hanya untuk duduk di sini.

Obrolan dengan wak harun membuat suasana semakin hangat di sore ini. 

“Kau mau menyelam lagi, bujang?”

“Bukan wak, aku cuma mau ke sini minum kopi sambil menikmati indahnya matahari terbenam hingga senja datang” 

“Hah… kau bercanda bujang”

“Nggak wak, aku naik pesawat jam 7 pagi tadi dan sampai jam 10. Dari bandara aku menuju terminal naik sado. Lanjut naik bus 4 jam menuju lombok utara, sampai di pelabuhan naik perahu sewa selama 2 jam dan sampailah ke pulau indah ini. Tak lupa naik ojek motor 15 menit untuk sampai ke warung kopi ini wak. Hanya agar tidak terlambat datang… dan alhamdulillah, aku sampai di sini wak”

“Whahaha….tak bisa ku saggah jika kau ingin lari dari kepenatan, dan aku tak akan bertanya lagi. Baiklah kalau begitu bujang, nikmati pelarianmu di kedai gubukku ini”

Wak Harun berlalu pergi dengan suara tawanya sambil menggeleng-geleng heran menatapku. Aku kembali sendiri, hampir jatuh dalam lamunan kembali, tiba-tiba aku mendengar suara teriakan Wak Harun dari jauh

“Bujang, nanti aku ceritakan dan kau akan terkejut, kembalilah melamun. Tapi hampir maghrib, hati-hati….hahahaha”

Aku hanya tersenyum simpul, tidak terlau menanggapi teriakan Wak Harun tentang apa yang ingin dia ceritakan karena dia memang suka bercerita. Ciri khas para penikmat kopi.

…. ….. …..

Tak lama adzan maghrib berkumandang, tertanda senja akan datang. Lalu langit perlahan redup, berubah syahdu, seperti malu merona merah.

Sebenarnya ada hal lain yang mengusik pikiranku semingguan ini. Mimpi, ya… mimpi yang datang berkali-kali dalam tidurku. Mimpi yang sangat jelas dan melekat di kepalaku. Mimpi itu terjadi di pulau ini, setelah langit berubah menjadi merona merah.

Bersambung….

SENYUM

“Hai, gue air.. kamu Januari ya yang handle acara ini? Sorry banget gue telat”

……. ……. …….

Pagi itu semua terburu-buru. Mobil melaju sekenanya menuju Bandung. Kalau tidak macet perjalanan Jakarta-Bandung kurang lebih 2 jam. Semalam alaram yang ku set ternyata tak berdering karena salah seting modus yang seharusnya AM ternyata PM. Dan sepanjang perjalanan aku terus mengumpat alarm sebagai biang keladinya. Mencari siapa yang bisa dijadikan pelampiasan atas kebodohanku sendiri.

Ada acara besar pagi ini yang harus aku kerjakan di Bandung. Shooting promo ulang tahun sebuah Bank bergengsi yang sudah banyak menggelontorkan uangnya demi blocking commercial build in satu menit di stasiun tv tempatku bekerja. Kalau tidak tiba tepat waktu, bisa berantakan semuanya.

Sepanjang perjalanan aku berharap budaya terlambat di Indonesia masih langgeng. Berharap direktur utama bank tersebut datang terlambat layaknya polisi film India yang muncul saat si jagoan sudah mengalahkan musuh-musuhnya. Dan benar saja, ternyata direktur itu memang terlambat dan Indonesia merdeka.

Dengan tampang acak-acakan karena hanya berbekal cuci muka dan gosok gigi, aku akhirnya sampai di lokasi shooting di seputaran jalan Asia Afrika. Lewat 15 menit dari jadwal,dan direktur bank bergengsi, terlambat 30 menit. Aku masih aman, tapi kelaparan belum sarapan. Mencari kawan-kawan crew yang sudah standby satu jam sebelumnya.

Saat diperjalanan aku menelpon produser program. Hanya bisa meminta maaf memelas karena terlambat. Sumpah dan sampah menjadi sarapan pagi dari produser.

“Kameramen kancut, lo bisa shooting nggak nih?”

“Siap bang, bisa. Ini lagi diperjalanan”

“Bangke, gue nelponin lo ampe puluhan kali nggak lo angkat. ntar lo temuin dulu salah seorang AE yang koordinir acara, namanya Januari”

“Siap bang, siap salah”

Telepon langsung terputus

Dari Jakarta seharusnya semua tim berangkat bersama. Karena aku terlambat, tim berangkat duluan atau lebih tepatnya meninggalkan. Sampai di lokasi semua kamera dan lampu sudah di set. Crew siaga satu di lobby bank bergengsi, aku menghadap produser

“Pagi bang”

“Kih, enak banget lo nyampe-nyampe alat udah pada di set. Kamera lo udah di blockingin”

“Siap salah bang”

“Tuh, di luar lo temuin dulu Januari. Minta brief testimoni si direktur ntar”

“Orangnya yang mana bang”

“Noh, yang rambutnya sebahu, make kacamata”

“Yang gondrong gemuk ya bang”

“Njir, yang cewe cuy. Kalo yang gondrong gemuk itu anak makeup”

“Owh, siap cucok ya bang”

“Bangke.. cepetan sono”

Sedikit merapikan rambut sambil berlari kecil keluar lobby bank, menyapa salam dari belakang pundaknya.

“Permisi mba”

Bak film ftv, hembusan angin yang menerpa rambut, dia berbalik dalam gerakan lambat.  lagu yofi dan nuno melantun.

“Hai, gue air.. lo Januari ya yang handle acara ini? Sorry banget gue telat”

“Hai, iyup gw Januari. Kenapa telat mas?”

“Iya maaf, gw nggak pake pengaman jadinya telat”

“Hah…? Gimana mas?”

“Hehe, nggak. Ya biasalah anak muda, suka begadang lalu bablas”

Percakapan yang berlangsung 1×1 menit semua biasa saja. Sampai memasuki menit ke 2 dia memperlihatkan sesuatu yang membuat semua menjadi tidak biasa. Dia tersenyum. Senyuman yang membuat menit ke 2 itu terasa amat panjang. Rasa ini langsung ikut campur, sekehendaknya tanpa perintah dari otak.

Senyum simpul yang terbingkai hiasan lesung di pipi kanannya, di campur dengan kedua mata bulat dibalik kacamata yang juga bulat, dalam wadah wajah yang oval. Sampai lidah tak bertulang ini ikut turut andil memprovokasi gombal

“Indah”

“Kenapa mas?”

“Iya, kamu indah”

“Indah? Gue Januari mas. Bukan Indah”

“Eh maaf, bukan itu. Maksud gue, senyuman lo manis dan indah. Emm, lo harus sering-sering tersenyum ya! Hehehe”

Dia hanya mengerutkan kening keheranan campur jijik, dan aku hanya terpana diam terpesona. Lalu umpatanku pada alarm langsung aku ralat, menjadi  memuja alarm ponsel yang tak berdering.

RASANYA MENULIS?

Hampir lupa rasanya menulis, sudah lama tidak menulis. Tergantikan oleh photo-photo yang memiliki secuil caption. Terhanyut arus trend yang semakin simple dan minimalis. Trend yang sedikit banyak membuat candu dan menurunkan produktifitas, disamping banyak pula kelebihannya tentu. Hampir lupa rasa, asyiknya membaca buku ditemani aroma lembaran-lembaran kertas kayu hutan yang tak akan bisa tergantikan dengan kemajuan teknologi sehebat apapun, tapi tak tahu nanti.

Makhluk yang disebut manusia, saat ini tengah keranjingan teknologi media. Seperti kesurupan setan, atau cinta taklid buta.. makhluk ini tidak bisa lepas dari alat kecil berbentuk kotak yang berisi seluruh dunia. Seperti lampu Aladdin yang di gosok, keluar jin sakti lalu terkabul semua keinginannya. Apa jendela dunia yang disebut buku akan punah?

Hampir lupa punya keinginan membuat buku, selalu saja mempunyai alasan klise. hmmm…. benar-benar hampir lupa, bagaimana asyiknya menulis. Kata orang sejauh apapun kau pergi mengembara, ada satu tempat yang pasti membuatmu kembali. Rumah, orang-orang menyebutnya seperti itu. Tempat berbagi semua rasa… tidak mengapa jika sempat lupa dan terlena, tempat pulang selalu ada. 

catatan timur barat si penulis