Iklan Hebat
LIFE START HERE
Posted in Uncategorized | Tagged Iklan Hebat | Leave a Comment »

Teman perjalanan, saudara saya di Lombok, Mas Rony akhirnya membalaskan “dendam” rindu team NTB 1 ACI detikcom menaiki puncak Gunung Rinjani.
Pada bulan November tahun lalu, kami berada di Gunung Rinjani untuk menaiki puncaknya. Tapi karena Tuhan belum mengijinkan, seratus meter dari puncak kami harus turun karena cuaca dan waktu yang tidak memungkinkan.
Terimakasih kawan, terimakasih saudaraku. Telah membalaskan “dendam” rindu kami di Puncak Rinjani.
Photo by Erwin Rony
Posted in ACI, Adventure, Aku Cinta Indonesia | Tagged Gunung Rinjani | Leave a Comment »
Posted in Uncategorized | Tagged Beliefe, Dream | Leave a Comment »
Menjadi seorang jurnalis? Hmm…tidak terfikir sebelumnya. Sampai tiba-tiba, “titel” jurnalis melekat di dada saya. Memang sejak dulu saya senang menulis, tapi sama sekali tidak ada niat untuk menjadi seorang jurnalis. Dalam tulis menulis saya hanya punya cita-cita untuk membuat sebuah karya yang berwujud buku. Buku dengan genre humanis picisan. Tsahh..
Nanya-nanya di om Google. Dapat beberapa referensi tentang kemerdekaan pers yang dibungkus di dalam undang-undang pers
Dengan adanya UU Pers bagi saya menjadi suatu kehormatan bagaimana kemerdekaan pers itu dilangitkan. Namun tidak mudah jika kemerdekaan itu disalahgunakan atau disusupi oleh kepentingan-kepentingan yang bisa merusak idealisme seorang jurnalis.
Lalu saat “titel” itu melekat di dada, terus mau diapakan? *diorama ambigu.
source image from here
Posted in Jurnalis | Tagged kuli tipi | Leave a Comment »


I miss her so much… Berkahi kami ya Allah.
Posted in Catatan Tulis | Tagged cinta | Leave a Comment »


Sore itu, dari balik jendela kaca mobil. Bermuncullan bulir-bulir air dari langit. Menatap menyimak.. perlahan dan semakin cepat, sekejap saja bulir-bulir air memenuhi dan merangkai tangga nadanya sendiri. Lalu tercipta sebuah alunan syahdu dari langit. Hmm…menenangkan saat mendengarnya. Alhamdulillah
Posted in Uncategorized | Tagged Foto | Leave a Comment »

Menanti atau menunggu adalah salah bagian dalam pekerjaan para kuli media di dunia jurnalis. Mau itu media cetak, online, ataupun tv. Menunggu datangnya narsum (narasumber) atau menanti kejadian.
Menurut saya,bagian ini harus di tempatkan selayaknya kekasih. Kita harus mencintai dia apa adanya. Kehampaan dan kekosongan yang ada harus dibuat senyaman dan semeriah mungkin.
Karena itu, dalam penantian seorang jurnalis, hendaknya seperti menanti kekasih yang akan datang. Walo yang dinantikan tak jelas kedatangannya *tsahh bahasa gw
*tertulis dalam keadaan penantian “cinta” ?
Posted in Liputan, trans tv | Leave a Comment »



