Feeds:
Posts
Comments

image

Alam sering merangkul persahabatan antara manusia saat rumahnya di singgahi. Tapi dia bisa sangat kejam bila manusia menyiakannya. Bersama Yugi, Sabtu lalu saya mendapatkan tugas untuk melakukan peliputan di Gunung Gede, Bogor. Bersama dan bertemu orang-orang yang sangat ramah. Bertemu penambang yang selalu tersenyum dan langsung menyatukan. Bertemu dengan orang-orang yang sudah menjadi sahabat baik gunung di sana.

“Sekarang kalau kau ingin menanyakan sesuatu pada rumput yang bergoyang, mereka pasti akan menjawab”.

Ketika pertama kali datang ke Jakarta sebagai calon jurnalis (waktu itu baru akan tanda tangan kontrak kerja), saya nginap di kamar kos teman yang juga seorang jurnalis. Ketika malam akan tidur teman saya menyetel alarm di handphone-nya untuk bangun besok pagi. Pikir saya dia mau bangun pagi untuk masuk kerja.

“Kriingggg!!!!!”

Pagi hari bunyilah alarmnya, dia bangun dan saya pun ikut terbangun. Sayup-sayup saya melihat dari balik jendela matahari belum menerangi bumi. Tiba-tiba dia langsung mengambil remote dan menyalakan TV nya.

Dia menonton program berita di divisi yang dia tempati bekerja. Saya perhatikan, dia seperti menunggu sesuatu dari acara berita tersebut. Tibalah pada satu segmen di acara berita itu,dia langsung mengeraskan volume TV. Dengan serius dia memperhatikan dan menyimak berita itu. Tidak lebih dari dua menit, ya..tak lebih dari dua menit. Setelah itu dia menarik nafas panjang sambil mengangkat kedua tangannya ke atas seperti baru menang lotre dan tersenyum lebar. Ada apa gerangan??? Dia menengok ke arahku masih dengan senyum lebarnya dan berkata.

“Liputan gue bro!”

Setelah itu dia langsung merebahkan badannya kembali dan melanjutkan tidur. Masih tampak sisa dari senyum lebar tadi di wajahnya. Saya cuma terheran.

Sampailah ketika saya sudah menjadi seorang jurnalis di Trans TV. Kebetulan saya ditempatkan di divisi news dengan program berita bernama Reportase. Barulah saya mengerti arti dari senyum lebar penuh kepuasan dari teman saya.

Bertarung di lapangan seharian untuk meliput peristiwa dengan peluh dan lelah. Belum lagi ketika harus bertarung dengan teriknya sinar matahari atau menunggu seharian demi mendapatkan secuil gambar atau satu kata saja dari narasumber.

Semua aktivitas itu terbayar ketika liputan itu tayang dan tersampaikan pada masyarakat. Rasanya lega dan puas, perasaan bangga dan haru menghinggap di dada yang memberikan semangat lebih untuk menghasilkan karya-karya lainnya.

Sampai sekarang, saya sering kali tidak ingin melewatkan untuk menonton berita Reportase sebagai tempat dimana karya saya bisa ditampilkan. Tak hanya ingin melihat karya saya, tapi juga melihat karya teman-teman sepenanggungan yang pastinya tersenyum puas ketika melihat karya mereka di tampilkan ke masyarakat Indonesia.

Bagaimana seorang jurnalis tidak menganggap tugasnya sebagai pekerjaan. Tapi bagaimana menganggap bahwa dalam tugasnya dia sedang membuat karya, yaitu Karya Jurnalistik. Waw, lega dan meletupkan semangat.

Note : Tulisan ini saya persembahkan kepada rekan kerja kami, Ismiati Soenarto dan Aditya Sukardi yang gugur dalam tugas pada tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi. “Karya-karya kalian hebat kawan!!”

NUTRILON

Iklan Hebat

Pucak Rinjani

image

Teman perjalanan, saudara saya di Lombok, Mas Rony akhirnya membalaskan “dendam” rindu team NTB 1 ACI detikcom menaiki puncak Gunung Rinjani.

Pada bulan November tahun lalu, kami berada di Gunung Rinjani untuk menaiki puncaknya. Tapi karena Tuhan belum mengijinkan, seratus meter dari puncak kami harus turun karena cuaca dan waktu yang tidak memungkinkan.

Terimakasih kawan, terimakasih saudaraku. Telah membalaskan “dendam” rindu kami di Puncak Rinjani.

Photo by Erwin Rony

Buat kamu yang punya mimpi dan percaya pada mimpimu

Bagaimana menjadi kreatif

Dan bagaimana meraih apa yang kamu inginkan

Kemerdekaan Pers

Menjadi seorang jurnalis? Hmm…tidak terfikir sebelumnya. Sampai tiba-tiba, “titel” jurnalis melekat di dada saya. Memang sejak dulu saya senang menulis, tapi sama sekali tidak ada niat untuk menjadi seorang jurnalis. Dalam tulis menulis saya hanya punya cita-cita untuk membuat sebuah karya yang berwujud buku. Buku dengan genre humanis picisan. Tsahh..

Nanya-nanya di om Google. Dapat beberapa referensi tentang kemerdekaan pers yang dibungkus di dalam undang-undang pers

Dengan adanya UU Pers bagi saya menjadi suatu kehormatan bagaimana kemerdekaan pers itu dilangitkan. Namun tidak mudah jika kemerdekaan itu disalahgunakan atau disusupi oleh kepentingan-kepentingan yang bisa merusak idealisme seorang jurnalis.

Lalu saat “titel” itu melekat di dada, terus mau diapakan? *diorama ambigu.

source image from here

My Lovely Wife

image

image

I miss her so much… Berkahi kami ya Allah.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 308 other followers